>>selengkapnya>>
Media Komunikasi Mahasiswa PGSD
>>selengkapnya>>
Label: Informasi, Penelitian Tindakan Kelas
Diposting oleh Redaksi PGSD Kebumen di 19.48 0 komentar

Nah ni tampang kaisar racana yang jago keyboard. Waktu gambar ini diambil kebetulan belum mandi dan bangun tidur jadi maaf kalo kelihatan jelek. Tapi suer aslinya ganteng kok.hahahaha.......
Label: Profil Mahasiswa
Diposting oleh SD NEGERI I KEBUMEN di 17.57 2 komentar
MPintar itu selalu mendapat nilai bagus, rengking sepuluh besar, hapalannya bagus, cepat membaca, cepat bisa menulis. Tidak pernah bertingkah laku aneh, baik dalam kesehariannya. Inilah anggapan yang terjadi dalam masyarakat kita, anak pintar telah distandarisasikan.
Sehingga orang tua berlomba-lomba memberi les tambahan kepada anaknya agar sesuai
dengan standar yang diberikan oleh pandangan masyarakat pada umumnya. Dan tak jarang
memarahinya ketika nilainya jelek dan tidak rengking, bahkan sampai memukul dan
menghukumnya. Perlakuan ini sangat disayangkan, karena dimarahi, dihukuman,
dipukul bisa berakibat fatal pada perkembangan mental anak. Anak jadi minder, tidak percaya diri, merasa tidak punya kelebihan karena sering dibandingkan dengan yang lebih pintar. Tetapi
ada juga sebagian anak ketika dihukum karena nilainya jelek, bisa berprestasi, walaupun
kadang bukan karena keinginannya, tetapi keinginan orangtuanya agar bisa dibanggakan
kepada temannya.
Inilah carut marut pendidikan kita, masyarakat kita telah menstandarkan orang pintar dan orang bodoh. Semacam mitos, cerita yang dibangun berdasarkan kejadian dan pendapat pada
umumnya orang mengatakan. Hingga pada tahap cerita yang harus diikuti masyarakat. Pada
dasarnya anak dilahirkan tidak ditakdirkan menjadi bodoh, semuanya punya keunikan dan kelebihan, tinggal bagaimana orangtua mengasah dan merangsangnya. Di sinilah peran orangtua. Kalau orangtua mendidik dengan kasih sayang sejak di dalam rahim hingga dewasa, pastinya
akan menghasilkan generasi berkualitas.
Anggapan bahwa anak pintar itu harus nilai bagus, rengking, memberikan dampak yang buruk terhadap perkembangan anak. Sebenarnya semua anak dilahirkan tidak dikaruniai kebodohan. Semua mempunyai kecerdasan, hanya kecerdasan mana yang lebih cenderung dimiliki anak. Kurikulum yang dipakai saat ini porsi terbesar memperkerjakan kecerdasan logika, padahal menurut Howard Gardner, peneliti dan psikolog menemukan bahwa di dalam otak ada
area yang menunjukkan jenis-jenis kecerdasan tertentu. Gardner menemukan adanya
sembilan macam kecerdayan yaitu cerdas kata, cerdas alam, cerdas diri, cerdas bergaul,
cerdas musik, cerdas tubuh, cerdas gambar, cerdas logika, cerdas makna, yang diistilahkan
sebagai Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk). Sebenarnya anak tidak bodoh, hanya
karena kurikulum yang mengharuskan untuk mengoktimalkan kecerdasan logika, padahal anak memiliki kecerdasan gerak, sehingga ketika harus menghafal dia tidak mampu semaksimal anak
yang memiliki kecerdasan logika, hingga pada akhirnya anak mendapat nilai kurang baik.
Seharusnya apabila semua pendidik, baik itu orangtua maupun guru di sekolah mengerti bahwa anak mempunyai kecenderungan kecerdasan maka tidak ada yang akan dikatakan bodoh. Sehingga sekolah bagi anak bukan menjadi beban untuk harus memiliki nilai bagus, sekolah menjadi kesenangan seperti saat mereka bermain. Hal ini tak lepas juga dengan sistem pendidikan pemerintah, yaitu kurikulum yang memang tidak baik untuk semua anak. Pelajaran yang dipatenkan dari pemerintah diperuntukkan hanya anak yang memiliki kecerdasan saja yang dioptimalkan. Sehingga banyak anak yang hanya jadi penggembira atau terpaksa mengikuti pelajaran.
Seandainya kurikulum pendidikan saat ini menganut teori Gardner yaitu kecerdasan majemuk, mungkin beberapa tahun kedepan akan menelurkan generasi yang luar biasa. Pendidikan bukan hanya sekedar memberikan mata pelajaran kepada anak didik, tetapi bagaimana anak didik itu
mampu menangkap dengan potensi kecerdasannya. Sehingga bukan kesia-siaan belaka. Anak didik mampu menangkap tanpa dibebani rasa bersalah karena kecenderungan kecerdasannya, untuk itu dibutuhkan tenaga pendidik kreatif yang mengerti tentang kecenderungan kecerdasan anak. Saat ini banyak tenaga pendidik yang hanya menjalankan kurikulum yang dibuat pemerintah, karena target-target yang harus dicapai dan telah dibakukan kurikulum,
sehingga tenaga pendidik susah untuk bisa menemukan kreatifitas di luar kurikulum.
Seperti yang diungakapkan Hernowo dalam bukunya Menjadi Guru, apabila seorang pengajar masa kini menggunakan teori Gardner, selain dia akan didorong untuk mengajar secara kreatif-
menggunakan sembilan cara-diapun akan memandang anak didiknya secara positif. Memandang anak didik secara positif merupakan modal untuk bisa mengerti, ternyata anak mempunyai
kecenderungan kecerdasan lain selain temannya pada umumnya.
Hernowo mencontohkan, apabila ada anak didik yang usil dan maunya bergerak terus, ada
kemungkinan si anak didik memiliki kecerdasan tubuh (body smart) yang tinggi. Artinya anak yang memiliki kecerdasan tubuh yang tinggi perlu diajak berpikir (memahami suatu mata
pelajaran) dengan menggunakan gerak. Nah kemampuan untuk menganalisa inilah
kadang kurang dimiliki tenaga pendidik. Anak yang usil pada umumnya langsung dicap nakal,
karena sering mengganggu teman lainnya. Anggapan ini yang membuat anak akan
semakin usil dan tidak ada satu mata pelajaran yang masuk ke otaknya. Pada akhirnya anak mendapat nilai jelek dan dikatakan bodoh.
Padahal kalau tenaga pendidik tahu bagaimana caranya agar anak didik memahami suatu mata
pelajaran seperti yang dicontohkan Hernowo maka tidak ada yang akan dikatakan bodoh.
Menurut Hernowo tidak ada anak yang tidak dapat mempelajari suatu mata pelajaran jika seseorang pengajar menggunakan teori Multiple Intelligences.
Mitos yang telah melekat sejak lama di dalam benak orangtua memberikan gambaran bahwa perlunya orangtua memahami kecerdasan anak lebih cenderung ke arah mana. Sehingga orangtua tidak akan mudah mengatakan bodoh kepada anaknya. Orangtua mengerti ternyata anaknya itu tidak bodoh, karena tidak rangking, tetapi anaknya memiliki kecenderungan
kecerdasan lain yang sebenarnya kalau diolah dengan teori akan bisa meningkatkan
keilmuannya dan menjadi anak pintar.
Anggapan bahwa anak pintar adalah anak yang nilainya bagus tidak sepenuhnya benar. Karena semua anak mempunyai kecenderungan kecerdasan masing-masing. Dan nilai bagus tidak selalu menentukan kesuksesan di masa mendatang. Bahkan ada anak yang dulu nilainya pas-pasan, bisa melebihi kesuksesan anak yang selalu nilainya bagus di kelas.
Kita tidak tahu akan menjadi apa anak kita di masa mendatang, tetapi kita tahu bahwa hasil apa
yang akan kita dapatkan ketika kita menanam, merawat, menyiram dengan kasih sayang dan
memberikan pupuk yang tepat, pastinya akan menghasilkan buah yang kita idamkan. [Fajar
Sasora : 2008]
Label: Masalah Pendidikan, Wacana
Diposting oleh SD NEGERI I KEBUMEN di 18.48 9 komentar
WaAgaknya, kegelisahan Bertrand Russell dalam bukunya The Function of a Teacher, kini terbukti. Mengajar, lebih daripada profesi lainnya, telah mengalami transformasi selama dua ratus tahun terakhir. Dari suatu profesi kecil, dengan keahlian tinggi yang hanya dinikmati oleh segelintir orang, menjadi suatu bidang jasa umum yang besar dan penting. Profesi ini mempunyai tradisi yang besar dan terhormat, membentang dari awal sejarah manusia hingga masa-masa mutakhir.
Dahulu seorang guru diharapkan memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan istimewa, yang kata-katanya patut untuk didengarkan. Waktu itu mengajar bukanlah sutau profesi yang diorganisir, dan tidak ada pengawasan atas apa yang diajarkannya. Memang benar bahwa mereka kemudian sering dihukum mati karena ajaran-ajarannya yang dipandang bersifat subversif. Socrates dihukum mati dan Plato dijebloskan ke penjara. Tapi kejadian demikian tak sampai menghambat tersebarnya ajaran-ajaran mereka. Tiap orang yang memiliki naluri guru yang murni akan lebih senang hidup terus dalam buku-bukunya dari pada dalam tubuhnya. Suatu perasaan kemerdekaan intelektual sangat penting artinya bagi pemenuhan yang sesungguhnya dari fungsi-fungsi guru, sebab memang sudah tugasnya untuk menanamkan pengetahuan serta daya nalar yang dimilikinya ke dalam proses pembentukan pendapat umum.
Namun kini, profesi guru tak lagi istimewa. Bila dibandingkan dengan pekerjaan profesional lain, seperti dokter, pengacara, akuntan, arsitek dan sebagainya, maka profesi guru memiliki peluang yang lebih terbuka. Siapapun dapat menjadi guru, asal ada lowongan. Banyak orang-orang yang bertalarbelakang pendidikan non guru menjadi guru, tanpa ada sanksi ataupun peringatan. Ada insinyur petanian mengajar IPS, ada sarjana IAIN non-jurusan tarbiyah (kependidikan) mengajar akutansi, ada sarjana biologi mengajar agama dan sebagainya.
Secara substansiil mungkin kemampuan mengajar mereka dapat diakui, namun secara profesional praktik semacam itu adalah keliru. Jabatan professional adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus, mempunyai jenjang karier dan dilindungi oleh kode etik dan kompetensi-kompetensi keguruan.
Kode etik adalah aturan norma yang mengikat para anggota dan mempunyai sanksi moral bagi yang melanggarnya dan melindungi kepentingan profesi. Dalam kode etik disebutkan bahwa guru adalah seorang pendidik, bukan hanya sebagai pengajar. Sebagai seorang pendidik, maka keberadaan guru tak hanya berkewajiban menyampaikan materi (transfer of knowledge) kepada siswa, tetapi juga berkewajiban menyampaikan skill dan nilai (transfer of skill and transfer of value).
Ini berarti bahwa tugas guru tidak selesai pada aspek knowledge saja, pandai ilmu pengetahuan dan dapat menyampaikan kepada siswa, namun juga harus dapat menjadi teladan bagi siswanya. Perilaku yang dilakukan oleh guru harus menjadi cermin atau contoh bagi siswanya.
Secara khusus, sebagai sebuah profesi keguruan, ada beberapa kriteria seorang guru. Menurut versi National Education Association (NEA), guru berarti jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual, menggeluti sutau batang tubuh ilmu yang khusus, memerlukan persiapan profesional yang lama, memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan, menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen, menentukan standarnya sendiri, lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi, mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
Tidak mudah menjadi guru, perlu persiapan, latihan, pembiasaan dan pendidikan yang cukup. Itulah sebabnya, salah satu kompetensi guru profesional itu harus ada ijazah guru. Ijazah bukan semata-mata karena alasan formalitas. Ijazah guru menjadi penanda seseorang telah menguasai kompetensi serta metodologi pengajaran.
Penguasaan materi bagi guru itu penting, tapi belum cukup. Guru harus menguasai metodolgi pengajaran. Bagaimana menyampaikan materi yang berat agar terasa ringan, bagaimana melayani sejumlah siswa dengan berbagai macam tingkah dan polahnya. Untuk itu, guru harus dapat memahami psikologi perkembangan, untuk mengetahui keadaan psikis anak sesuai dengan perkembangannya. Pengembangan kurikulum, untuk mengetahui alur pelajaran yang harus diajarkan. Teknologi pengajaran, untuk membantu siswa dalam memudahkan memahami pelajaran dan sebagainya. Materi-materi itulah yang diajarkan dalam lembaga pendidikan keguruan dan program akta. [FS, suaramerdeka.com]
Label: Profesionalisme guru, Wacana
Diposting oleh Prima Yoga S. di 22.02 6 komentar
Kegiatan mahasiswa Pe Pe eL di SD N I Kebumen begitu padat.Selain tugas praktek mengajar, membuat laporan PTK serta tugas akhir mahasiswa PGSD Kampus Kebumen ini juga selalu dilibatkan dalam kegiatan Ekstra kurikuler serta tugas mengawal para suporter POPDA kontingen SD N I Kebumen, salah satunya adalah kegiatan yang terpampang di samping ini.Mereka berbaur dengan sisiwa-siswi SD N I Kebumen untuk menjadi suporter sepak takraw, karena pada hari itu kontingen sepak takraw
mewakili kecamatan Kebumen dalam POPDA 2008.Atas dorongan semangat suporter yang begitu antusias membela Tim SEPAK TAKRAW akhirnya Tim ini berhasil menaklukkan lawan dari kecamatan Sempor dengan menang telak 2 - 0, Dan dibabak final SD N I Kebumen berhadapan dengan tim dari Kecamatan Karanggayam dalam pertandingan yang sangat seru ini kembali Tim Sepak Takraw SD N I Kebumen berhasil menaklukkan dengan skor 2 -0.Dengan kemenangan ini Tim Sepak Takraw SD N I Kebumen dikirim ke Tingkat Ex Karisidenan Kedu yang rencananya akan diselenggarakan di Kabupaten Wonosobo pada tanggal 29 April mendatang.Dan walaupun Tim Mahasiswa PPL PGSD sudah selesai menempuh ujian praktek pengalaman mengajar mereka dengan sukarela dan senang hati akan mengikuti rombongan keluarga besar SD N I Kebumen untuk menjadi suporter di Pertandingan itu.Dengan adanya kegiatan semacam ini tentunya akan menambah pengetahuan dan pengalaman lebih bagi Mahasiswa.
Diposting oleh SD NEGERI I KEBUMEN di 13.50 2 komentar
Mungkin sebagian dari kalangan masyarakat bahkan mahasiswa ada yang tidak tahu apa sih dies natalis itu??? “Dies Natalis” yaitu hari kelahiran yang sering kita sebut hari ulang tahun.
Tepatnya pada hari Selasa tanggal 11 Maret 2008 kemarin, UNS merayakan hari jadinya yang ke XXXII. Dikarenakan jadwal perkuliahan yang sangat padat, perayaan Dies Natalis di kampus Kebumen ini baru dilaksanakan pada tanggal 14 – 16 Maret 2008.
Rangkaian kegiatan Dies Natalis dimulai dari Upacara Pembukaan yang ditandai dengan pelepasan balon oleh Bapak Drs. H. Sarcowi selaku SekretarisProgram D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Tepukan dan senyuman nampak dari wajah-wajah keluarga besar D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen yang ikut memeriahkan dengan tidak mengurangi kekhidmatan dari upacara tersebut. Setelah upacara selesai dilanjutkan acara jalan sehat dengan hadiah utama sebuah sepeda persembahan khusus dari sekretaris program D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen.
Sampai hari kedua perayaan Dies Natalis diramaikan dengan perlombaan dari berbagai bidang. Meliputi bidang olahraga antara lain volley ball, badminton, dan senam. Bidang kesenian seperti lomba puisi, macapat, dan mini band. Sedangkan dari bidang kerohanian yaitu lomba dakwah. Hari kedua juga dimeriahkan dengan adanya bazaar yang diikuti oleh mahasiswa perwakilan kelas. Tak ketinggalan juga kegiatan bakti social pengobatan alternative gratis oleh “Siteki Teratai” dari
Hari ketiga diakhiri dengan Upacara Penutupan yang diadakan di aula PGSD KampusVI Kebumen yang dihadiri oleh civitas kampus VI Kebumen. Inti dari rangkaian kegiatan tersebut adalah pelantikan pengurus HIMPRO XVIII sekaligus penutupan peringatan Dies Natalis XXXII UNS secara simbolis dilakukan dengan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada ketua HIMPRO XVIII. Setelah acara inti selesai dilanjutkan pengundian doorprize utama dan yang beruntung mendapatkannya yaitu Nur Hidayanti mahasiswi semester IIA regular prajabatan. Secara simbolis hadiah tersebut diserahkan oleh Sekretaris Program D2 PGSD FKIP UNS Kampus VI Kebumen. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan hadiah lomba-lomba yang diakhiri dengan acara hiburan.
Perasaan senang dan gembira bercampur manjadi satu dirasakan oleh mahasiswa sebagai ucapan syukur atas berakhirnya rangkaian kegiatan Dies Natalis XXXII UNS yang berjalan dengan baik.
Dengan berakhirnya kegiatan Dies Natalis diharapkan mahasiswa dapat lebih mengembangkan karya dan kreativitasnya demi kemajuan UNS di masyarakat luas pada umumnya dan di dunia pendidikan padakhususnya.Amiiinnn…….
Label: Kegiatan Kampus
Diposting oleh Redaksi PGSD Kebumen di 21.19 2 komentar
Berikut ini redaksi postingkan link untuk download kisi-kisi panduan soal-soal UASBN Sekolah Dasar TA. 2007/2008, yang diunduh langsung dari PUSPENDIK.
Untuk download kisi-kisi soal Bahasa indonesia klik disini!
Untuk download kisi-kisi soal IPA klik disini!
Untuk download kisi-kisi soal Matematika klik disini!
Selamat mengunduh!
Diposting oleh Redaksi PGSD Kebumen di 19.22 0 komentar
|
|